PERGANTIAN KURIKULUM PENDIDIKAN           ATAS PERTIMBANGAN POLITIS  < Ki Supriyoko >

A.        PENGANTAR

 

Tulisan Pak Boediono yang nota bene kita tahu adalah seorang Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) di harian Kompas edisi 27 Agustus 2012 dengan judul ‘Pendidikan Kunci Pembangunan’ kiranya benar-benar telah membawa dampak yang cukup signifikan. Di kalangan masyarakat umum, khususnya masyarakat pendidikan, tulisan tersebut disambut gembira dika-renakan adanya semacam pengakuan oleh pemimpin negeri ini atas adanya kegagalan di dunia pendidikan. Bagaimana tidak gagal kalau dalam tulisan tersebut secara eksplisi Pak Boediono menyatakan kita belum punya kon-sepsi yang jelas tentang substansi pendidikan ini. Karena tak ada konsepsi yang jelas, timbullah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting ke dalam kurikulum. Akibatnya, terjadilah beban berle-bihan pada anak didik.

 

 

_____________________________________________________________

<*>      Makalah Diskusi Terbatas tentang Perubahan Kurikulum

Diselenggarakan Forum Mangunwijaya (Kompas dan DED)

Yogyakarta: Kantor Harian Kompas, 14 September 2012

Di kalangan birokrasi pendidikan, utamanya birokrasi pusat dan yang lebih utama lagi birokrasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kem-dikbud), tulisan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang konstruktif untuk mengadakan koreksi diri meski ada pula yang beranggapan bahwa tulisan tersebut sama halnya dengan menelanjangi pemerintah itu sendiri.

 

Demikian signifikannya dampak atas tulisan Pak Boediono tersebut maka muncul pendapat bahwa rencana pergantian kurikulum pendidikan adalah semata-mata akibat dari tulisan tersebut.

 

 

B.        SEJARAH PERKURIKULUMAN

 

Bahwa tulisan Pak Boediono memacu dan memicu pergantian kuri-kulum pendidikan rasanya memang benar. Setahu penulis, pasca dikorankan tulisan Pak Boediono maka para pimpinan Kemdikbud segera mengadakan evaluasi tentang kondisi pendidikan nasional kita; dan akhirnya berkesim-pulan bahwa penyebab kegagalan pendidikan kita ujung pangkalnya terletak pada kurikulum pendidikan.

 

Kalau bangsa kita tidak mampu bersaing dalam bidang-bidang ter-tentu dengan negara maju hal itu dikarenakan kurikulum pendidikan kita belum mampu memberi bekal yang memadai kepada anak didik untuk bersaing; kalau pejabat kita banyak yang korup hal itu disebabkan kuriku-lum pendidikan kita belum memberikan bekal kejujuran yang memadai; kalau banyak siswa tawuran di jalanan hal itu dikarenakan pendidikan kita belum mampu memberikan bekal karakter yang baik, dan sebagainya,

Senyatanya rencana pergantian kurikulum sudah ada sebelum tulisan Pak Boediono dikorankan; persiapannya sudah dilakukan oleh Kemdikbud khususnya pada Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Badan Pene-litian dan Pengembangan (Balitbang). Banyak pakar pendidikan dan pakar kurikulum pendidikan dihadirkan; bahkan konsep kurikulum baru sudah hampir jadi tinggal menunggu “polesan” di sana-sini.

 

Pergantian kurikulum pendidikan merupakan hal yang wajar-wajar saja. Setiap kurikulum pasti dilakukan penggantian, perubahan, perbaikan, pengembangan, penyempurnaan, atau apa pun namanya. Bahkan, kalau ada kurikulum yang tidak pernah dikembangkan sudah dapat dipastikan akan “ditinggal” oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Seingat penulis, kita sudah berkali-kali melakukan pengembangan kurikulum pendidikan pascakemerdekaan. Pertama kali pendidikan nasional kita membuat rencana pelajaran (leer plan) untuk sekolah-sekolah pada tahun 1947. Setelah rencana pelajaran ini dipraktik-cobakan selama 3 tahun maka lahirlah sebuah kurikulum pendidikan pada tahun 1950. Kurikulum ini dikenal dengan Kurikulum 1950 yang menjadi tonggak perkembangan pendidikan di Indonesia.

 

Dua tahun kemudian rencana pelajaran yang disusun pada tahun 1947 dan dikembangkan menjadi Kurikulum 1950 akhirnya disempurnakan lagi menjadi Rencana Pelajaran Terurai (RPT). Rencana pelajaran yang terakhir ini memang lebih terurai khususnya menyangkut bahan ajar atau yang seka-rang dikenal dengan silabus. RPT ini selanjutnya dikenal dengan Kurikulum 1952 yang merupakan pengembangan dari Kurikulum 1950.

Selanjutnya di tahun 1964 dikembangkan Rencana Pendidikan yang ditekankan pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya dan pendidik-an moral. Salah satu latar belakang dikembangkannya rencana pendidikan ini adalah munculnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan yang bukan sekedar pengajaran. Pengajaran dianggap belum mengakomo-dasi “otak kanan” seperti penanaman sikap dan moral. Rencana Pendidikan ini akhirnya menjadi kurikulum yang dikenal dengan Kurikulum 1964.

 

Pada tahun 1968 muncul lagi kurikulum baru yang dikenal dengan sebutan Kurikulum 1968. Lahirnya kurikulum ini sangatlah berbau politis. Karena Kurikulum 1964 dianggap sebagai peninggalan Orde Lama yang dianggap berbau komunis dan tidak mampu membekali anak didik untuk saling bersatu maka dikembangkan kurikulum yang bertujuan untuk mem-bentuk manusia Pancasila Sejati. Pada akhirnya lahirlah Kurikulum 1968 yang pertama kali dikembangkan oleh Orda Baru.

 

Setelah Kurikulum 1968 dianggap “out of date” maka dikembang-kan Kurikulum 1975. Kurikulum ini menekankan pentingnya pelaksanaan pendidikan secara elbih efisien dan efektif. Dasar pengembangannya adalah teori Management by Objective (MBO). Di dalam kurikulum ini metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sis-tem Instruksional (PPSI).

 

Sembilan tahun kemudian lahir Kurikulum 1984 yang menekankan pentingnya Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). Untuk menyusun kurikulum ini banyak tenaga kita yang dikirim ke beberapa negara maju terutama Inggris yang telah mempraktikannya.

Sepuluh tahun berikutnya muncul lagi kurikulum pendidikan baru yang kemudian dikenal dengan Kurikulum 1994. Munculnya kurikulum baru ini merupakan upaya untuk memadukan pendekatan pada kurikulum-kurikulum yang sebelumnya; dalam hal ini ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dengan Kurikulum 1984, antara pendekatan tujuan dengan pendekatan proses. Adapun teorinya ialah; apabila tujuan yang akan dicapai dalam kurikulum itu jelas diiringi dengan proses yang jelas maka hasilnya akan jelas pula.

 

Sebagaimana dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya yang dirasa masih memiliki kekurangan di sana-sini setelah beberapa tahun dijalankan maka Kurikulum 1994 pun juga mengalaminya. Pemerintah pun kemudian menyempurnakan kurikulum baru ini dengan memberikan tambahan sub-stansi dalam jumlah yang signifikan. Keadaan ini terjadi lima tahun setelah diberlakukannya Kurikulum 1994. Karena jarak waktunya dipandang relatif sangat pendek untuk melakukan penggantian kurikulum maka tambahan substansi tersebut dipandang tidak cukup untuk mengganti kurikulum yang sebelumnya; akhirnya dikenallah Kurikulum 1994 Yang Disempurnakan, atau Kurikulum 1994 dengan Suplemen.

 

Selanjutnya pada tahun 2004 pemerintah baru “berani” meluncurkan kurikulum baru yang dikenal dengan Kurikulum 2004. Kurikulum ini relatif terkenal pada waktu dijalankan sampai sekarang disebabkan tunjuan pem-belajaran yang langsung mengarah pada jenis kompetensi apa yang harus dikuasai anak didik. Kurikulum ini dikenal masyarakat dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004. Di dalam kurikulum ini semua tujuan pembelajaran adalah pembentukan kompetensi yang jelas.

Ketika KBK belum tuntas dijalankan oleh sekolah dan madrasah, bahkan belum layak diukur hasil penerapannya di lapangan karena baru tiga tahun dijalankan, pemerintah memunculkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2007. Sekarang ini sekolah dan madrasah di Indonesia pada berbagai satuan pendidikan masih menjalankan KTSP dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sekolah dan madrasah yang berlokasi di dae-rah perkotaan dan di daerah pusat informasi pada umumnya memang sudah sangat familiar dengan KTSP tersebut namun dalam realitasnya banyak sekolah dan madrasah di daerah “remote” yang ternyata belum sepenuhnya familiar dengan KTSP.

 

Dari uraian tersebut di atas jelaslah bahwa pergantian kurikulum di Indonesia selama ini tidak selalu didasarkan pada tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, atau pun tuntutan budaya masyarakat setempat, akan tetapi ternyata ada yang lebih didasarkan pada pertimbangan politik. Di dalam hal ini adalah pergantian kurikulum pendidikan dari Kurikulum 1964 yang dianggap sebagai produk Orde Lama dengan segala kekurangannya menjadi Kurikulum 1968 sebagai produk Orde Baru dengan segala kelebihannya saat itu.

 

Apakah pergantian kurikulum pendidikan yang direncanakan saat ini merupakan kelanjutan dari perencanaan yang sudah dilakukan oleh Puskur-buk Balitbang selama ini? Bisa jadi! Kalau hal ini yang terjadi sebenarnya pergantian kurikulum pendidikan yang akan dilakukan oleh pemerintah me-rupakan sebuah proses yang biasa terjadi dalam dunia pendidikan; di mana pergantian kurikulum dilakukan karena adanya tuntutan perkembangan ilmu, pengetahuan, teknologi dan budaya masyarakat.

 

Apakah pergantian kurikulum pendidikan yang direncanakan saat ini merupakan sesuatu yang sangat baru dan merupakan reaksi sesaat atas tulisan Pak Boediono di harian Kompas tempo hari? Bisa jadi pula! Kalau hal ini yang terjadi maka pergantian kurikulum pendidikan yang akan dila-kukan oleh pemerintah sedikit banyak pertimbangannya merupakan pertim-bangan politik.

 

 

C.        FAKTOR PENDIDIK

 

Bahwa kurikulum pendidikan sangat menentukan arah pendidikan ke depan kiranya memang benar adanya namun demikian perlu disadari bahwa kurikulum dengan pendidik merupakan dua faktor yang tidak dapat saling dipisahkan dalam konteks produk pendidikan.

 

Artinya, kurikulum pendidikan yang baik tidak akan menghasilkan produk pendidikan yang bermanfaat kalau tidak dijalankan oleh pendidik yang profesional; sebaliknya kurikulum pendidikan yang tidak baik juga tidak akan menghasilkan produk pendidikan yang bermanfaat meskipun dijalankan oleh pendidik profesional. Idealnya, kurikulum pendidikan yang baik dijalankan oleh pendidik yang profesional akan menghasilkan produk pendidikan yang bermanfaat.

 

Dalam konteks rencana pergantian kurikulum pendidikan maka seba-iknya secara simultan pemerintah di samping mengembangkan kurikulum juga mengembangkan pendidiknya.

Kalau kita mau berbicara jujur, meskipun sudah 67 tahun Indonesia telah merdeka akan tetapi permasalahan pendidik dan tenaga kependidikan sampai sekarang belum pernah tersolusi secara memadai. Sekarang inilah momentum yang tepat untuk membenahi pendidik kita sembari melakukan pergantian kurikulum pendidikan !!!*****

 

 

_____________________________________________________________

 

 

 

 

BIODATA SINGKAT;

Nama   :  Ki Supriyoko

Hobby :

1.  Wakil Presiden Pan-Pacific Association of Private Education di Jepang

2.  Anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)

3.  Sekretaris Komisi Nasional (Komnas) Pendidikan Indonesia

4.  Konsultan Penjaminan Mutu Kemdikbud

5.  Wakil Ketua Majelis Luhur Tamansiswa

6.  Direktur Pascasarjana Pendidikan UST Yogyakarta

7.  Pembina Sekolah Unggulan Insan Cendekia Turi, Sleman, Yogyakarta

8.  Pengasuh Pesantren “Ar-Raudhah” Turi, Sleman, Yogyakarta

9.  Ketua RT-29 Celeban Baru Yogyakarta (31 tahun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>