Forum Manguanwijaya

undanga forum diskusi

 

Dinamika Edukasi Dasar menguandang anda sekalian dalam Diskusi Buku  Forum Mangunwijaya. Dalam diskusi ini akan dibahas beberapa buku karya Rm mangunwijaya yang kembali dicetak oleh Penerbit Buku Kompas. Selain itu akan dibahas buku karya penggemar Mangunwijaya yang menuangkan pemikirannya dalam tulisan.

Bagi anda yang berminat untuk hadir, dapat menghubungi nomor kontak yang tertera pada undangan. Undangan ini berlaku untuk umum dan tidak dipungut biaya, mari berdinamika.

head

Ajakan Kuwera 14

Salam Pendidikan
Kurewa 14 menyapa kali ini, mengajak rekan-rekan yang ingin mengaktualisasi diri maupun mendokumenkan penemuan dalam bidang pendidikan dalam bentuk tulisan untuk dimuat pada Kuwera 14.

Pada Kuwera 14 Mei-Juni, redaksi mengambil tema “Kurikulum Dalam Pendidikan”. Kurikulum merupakan sebuah acuan dalam proses pembelajaran yang berlangsung di dunia pendidikan. Peranan kurikulum ternyata belum banyak di pahami dan dimengerti oleh orang tua murid yang tidak berkutat dalam dunia pendidikan.

Kuwera 14 edisi ini mengajak saudara sekalian membagi wawasan mengenai kurikulum, baik dari pengertian sampai perkembangan kurikulum yang ada di Indonesia. Semoga dengan tulisan kita dapat mengedukasi masyarakat banyak

Sedikit bedah tema dari Kuwera 14 ini semoga dapat menginspirisai rekan-rekan dalam berkarya.

Tulisan dapat dikirimkan melalui email vj.harus@yahoo.co.id dengan judul “Tulisan Kuwera 14 Edisi 82” dikirimkan paling lambat 30 Juni 2015

Salam Pendidikan

Redaksi Kuwera 14

DSC_4048__1431059484_117.20.53.112

Mencari Guru yang Sejati di Tengah Bangsa yang Berubah

“Mencari Guru yang Sejati di Tengah Bangsa yang Berubah” demikianlah tema diskusi pendidikan yang diselenggarakan oleh Dinamika Edukasi Dasar bekerjasama dengan FISIP Universitas Atmajaya. Pada hari Rabu, 29 April 2015.

Dalam diskusi tersebut, Bapak Mario Antonius Birowo, Ph.D menjelaskan bahwa media merupakan tantangan juga keuntungan dalam mendidik. Yang terpenting adalah bagaimana cara memfilter informasi yang menjadikan bias sampai radikalisme pada proses pendidikan. Salah satu cara menanggulanginya adalah dengan mengajak murid/siswa kembali pada kearifan lokal sebagai bentuk filter modern yang sulit terbendung dewasa ini. Dengan dasar budaya yang kuat niscaya bukan pengaruh negatif yang masuk pada diri anak-anak tetapi kreativitas sebagai penunjang lestarinya budaya yang ada.

Hal menarik juga disampaikan oleh Bapak Drs. St. Kartono, M.Hum. Dalam penjelasannya beliau mengutarakan hal praktis yang perlu ada pada diri pendididik. Diantaranya adalah, sebagai guru harus benar-benar terbekali dengan ilmu. Sebagai seorang guru tak hanya cukup diperbudak buku paket, karena hal terbesar yang diserap oleh seorang siswa adalah perilaku atau contoh yang diberikan seorang guru secara nyata. Bukan teori yang tergantung di depan kelas. Selain itu seorang guru juga perlu mengasah visi dan misi dalam mengajar agar selalu memberi pencerahan bagi siswanya.

Data Alumni SDKE Mangunan

Teman-teman alumni SDKE Mangunan sekalian. Kali ini sekolah ingin menyapa teman-teman sekalian untuk bersama mengisi data alumni. Tujuan dari data alumni, sebagai sarana komunikasi kita dalam berbagai hal. Selain mengisi data diri, dalam formulir tertera beberapa pertanyaan sebagai bentuk saran untuk membangun sekolah kita tercinta. Terimakasih atas kerjasama teman-teman. Salam SDKE Mangunan.

Formulir yang sudah diisi secara online dapat dikirimkan melalui email sdkemangunan@yahoo.com atau vj.harus@yahoo.co.id

Bagi teman-teman yang hendak mengisi dapat membuka tautan ini (klik di sini)

 

Kemeriahan Hari Kartini, Dengan Semangat Nasionalisme

RA Kartini, sang inspirator bangsa yang menjunjung tinggi budaya bangsa, pendidikan dan humanisme merasukkan semangatnya kepada generasi muda untuk berkembang dan maju namun tidak meninggalkan budaya dimana bumi dipijak dan langit dijunjung.

Semangat tersebut coba diaktualisasikan oleh anak-anak SDKE dan TK Mangun dengan mengadakan School Assembly Kartinian  dalam rangka perayaan hari Kartini, 21 April 2015. Aktualaisasi pada semangat nasionalis dan humanis dihadirkan dalam berbagai acara yang diselenggarakan. diantaranya lomba oeragaan busana, bermusik dan mengenakan batik sebagai identitas bangsa tanpa mengkotak-kotakan pakaian daerah.

gambar1      DSC02186__1430384443_117.20.53.112     105_3460__1430384589_117.20.53.112    DSC02096__1430384751_117.20.53.112

 

diskusi pendidikan April 2015 upload

(Undangan Terbuka) Seri Diskusi Pemikiran Pendidikan FISIP UAJY-DED April 2015

MENCARI GURU SEJATI DI TENGAH BANGSA YANG BERUBAH

Tantangan dunia pendidikan di Indonesia saat ini dirasakan kian berat. Dunia mengalami perubahan yang begitu cepat, sementara dunia pendidikan kurang mampu mengimbanginya, sehingga kedodoran dalam mengikuti perubahan yang terjadi. Selain perubahan pesat yang harus dikejar, juga munculnya radikalisme oleh kelompok-kelompok tertentu yang mengajarkan kekerasan dan pembunuhan secara sadis, misalnya yang dilakukan oleh kelompok ISIS.

Paham radikalisme pun telah masuk ke dalam dunia pendidikan melalui buku pelajaran agama terutama untuk tingkat sekolah menengah atas. Dalam buku Pendidikan Agama Islam (PAI) terbitan Kemendikbud yang bermasalah itu, terdapat pada halaman 170. Pada halaman itu disebutkan tentang profil sekaligus ajaran Wahabi, tokoh pembaharu Islam asal Arab Saudi, Muhammad bin Abdul Wahab yang hidup pada 1703 sampai 1787 Masehi. Adapun pendapat Muhammad bin Abdul Wahab yang dikutip dalam halaman buku tersebut adalah, ‘Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah SWT, dan orang yang menyembah selain Allah SWT telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh’. Selain radikalisme, saat ini orang akan dengan mudah melakukan tidak kejahatan dan ketidakadilan terhadap sesame manusia. Di sekitar kita semakin banyak ditemukan kasus penipuan, perampokan disertai penganiayaan, bahkan rela pergi jauh meninggalkan negaranya untuk bergabung dengan kelompok radikal untuk melakukan tindak kekerasan terhadap sesama manusia.

Pendidikan karakter memang sangat mendesak dilakukan di Indonesia mengingat semakin massifnya berbagai kekerasan, penyimpangan, dan ketidakadaban yang terjadi di negara kita. Pendidikan yang mengacu pada cinta bangsa dan cinta sesama manusia dengan hidup bertoleransi. Untuk mampu memberikan pendidikan karakter kepada anak-anaknya, maka dipersyaratkan guru harus lebih dulu memiliki karakter atau disebut guru yang sejati. Pertanyaannya adalah apakah saat ini masih ada guru yang memiliki ciri guru sejati yang mampu mendidik karakter siswanya?